Pembelajaran Dengan Pendekatan Saintifik Pada PAUD



Pendekatan Saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengkostruksi kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan melalui tahapan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar, dan mengomunikasikan. Pendekatan saintifik tidak diartikan sebagai belajar sain tetapi menggunakan proses saintis dalam kegiatan belajar.

Model Pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dengan menggunakan Pendekatan Saintifik merupakan hal yang sangat penting untuk banyak aspek perkembangan anak. Pengenalan saintifik dilakukan dengan cara melibatkan anak langsung dalam kegiatan : yakni melakukan, mengalami, pencarian informasi dengan bertanya, mencari tahu jawaban hingga memahami dunia dengan gagasan-gagasan yang mengagumkan.


Tahapan-tahapan proses pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah sebagai berikut :
1.    Mengamati (Observing) :
Mengamati berarti menggunakan semua indera (penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba dan pengecap). Proses ini benar-benar dilakukan oleh anak tidak karena diberitahu guru, apabila anak belum terbiasa dengan proses ini guru dapat mendukungnya dengan kata-kata “kamu boleh memegang, mencium, mendengarkan, mencicipinya…..nah apa yang kamu rasakan ?”
2.    Menanya (Questioning) :
Adalah suatu proses mencari tahu atau mengkonfirmasi atau mencocokkan dari pengetahuan yang sudah dimiliki anak dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajarinya. Pada dasarnya anak adalah peneliti yang handal, ia selalu ingin tahu tentang sesuatu yang ditangkap inderanya. Karenanya ia sering bertanya, yang terkadang pertanyaannya sangat diluar dugaan orang dewasa. Yang dilakukan guru untuk mendukung kemampuan menanya anak adalah
-          Pada dasarnya anak senang bertanya. Saat anak tidak punya gagasan untuk bertanya, guru boleh memancingnya, misalnya “waktu kita petik tadi bunganya masih segar, kenapa sekarang menjadi layu ya ?
-          Apabila anak bertanya dengan pertanyaan demikian, sebaiknya tidak usah langsung di jawab, tetapi memancing agar ia mencari jawabannya, misalnya “oya ya… mengapa demikian ya…. Menurut kamu kenapa ?
-          Bila ada buku yang sesuai, ajaklah anak untuk mencari jawabannya dibuku, untuk mengenalkan buku sebagai sumber ilmu sejak usia dini, misalnya “mari kita lihat di buku ini “
3.    Mengumpulkan (Colecting) :
Mengumpulkan data adalah proses yang sangat diminati anak. Dalam proses ini anak melakukan coba-gagal-coba lagi “trial and error”. Anak senang mengulang-ngulang kegiatan yang sama tetapi dengan cara bermain yang berbeda. Bentuk dukungan guru untuk membangun kemampuan anak diproses ini adalah
-          Saat anak bermain ia membutuhkan waktu untuk menerapkan gagasannya, karenanya guru memberi waktu untuknya menyelesaikan gagasan melalui bahan dan alat yang digunakannya.
-          Bila anak tidak memiliki gagasan, guru dapat memberi contoh awal selanjutnya anak dapat melakukan sendiri.
-          Bila anak sudah selesai, guru dapat memperluas gagasan dengan memberi pertanyaan terbuka, misalnya “wah…sudah banyak daun bunga yang sudah ditempel, dimana tempat menempel daun yang kecil-kecil ?”
4.    Mengasosiasi (Associating) :
Proses ini anak mulai menghubungkan pengetahuan yang sudah dimilikinya dengan pengetahuan baru yang didapatkannya atau yang ada disekitarnya. Proses mengasosiasi penting bagi anak untuk membangun pemahaman baru tentang dunia sekelilingnya. Contohnya anak belajar tentang bentuk segi tiga melalui potongan kertas yang disiapkan guru, guru mengajak anak untuk menemukan benda-benda yang ada disekitar yang berbentuk segi tiga. Disini guru sudah mengasosiasikan atau menghubungkan pengetahuan baru tentang segi tiga dengan benda-benda di lingkungan sekitar. Proses asosiasi dapat terlihat saat anak mampu :
-          Menyebutkan persamaan: itu sama dengan……
-          Menyebutkan perbedaan : kalau ini……tapi itu……..
-          Mengelompokkan : yang ini temannya ini….
-          Membandingkan : daun ku lebih besar dari daun kamu.., dst
5.    Mengkomunikasikan (Communicating) :
Adalah proses penguatan pengetahuan terhadap pengetahuan baru yang didapatkan anak. Dukungan guru saat anak mengkomunikasikan karyanya adalah perhatian yang tulus.
-          “Bu guru lihat…..aku sudah membuat…” contoh celoteh anak, tanggapan dari guru adalah “oya…….bisa kamu ceritakan kepada ibu guru….?”
-          Untuk penguatan, guru dapat menanyakan : “Kamu berhasil menyelesaikan tugasmu dengan baik, apakah kamu mau membuat lagi atau mencoba kegiatan main yang lain….?”


Referensi : Pedoman Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini : Direktorat Pembinaan Anak Usia Dini
Advertisement

0 Comments


EmoticonEmoticon